Tragis! Ini Tragedi Cinta Ramli dan Sia, Terganjal Uang Panai, Berakhir di Racun Rumput, ‘Sia…Bangun Sia…’

0
0

ِPortal Berita Riau
Bagikan:

KORAN RIAU, Kisah Romeo and Juliet terulang di Jeneponto. Meski tak sama, namun setidaknya mirip.

Adalah Ramli (37), pemuda asal Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, jatuh cinta dengan gadis tetangga desanya, Sia (31) asal Desa Banri Manurung, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto.

Gayung bersambut. Cinta Ramli tak bertepuk sebelah tangan. Ternyata Sia juga punya perasaan yang sama. Keduanya pun menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih.

Ramli tulus mencintai Sia. Untuk membuktikan bahwa dirinya serius, hari itu dia membawa keluarganya datang melamar Sia.

Namun sayang, Ramli tak bisa memenuhi jumlah uang panai yang diminta oleh keluarga Sia. Ramli hanya punya Rp10 juta, sementara kerabat Sia meminta Rp15 juta.

Kakak kandung Sia, Hamid mengatakan, pihak keluarga berharap, dengan uang mahar yang cukup, keduanya bisa menikah dengan resepsi sederhana.

“Namanya adat Bugis-Makassar ada yang namanya mahar, yang Rp10 juta kami tidak sepakati, padahal kami sudah ringankan dengan Rp15 juta, karena kami rencananya ingin menggelar resepsi. Sekarang semuanya serba mahal, uang Rp10 juta itu kami rasa pasti tidak mencukupi,” kata Hamid.

Karena lamarannya ditolak dan tak bisa menyediakan uang sejumlah Rp15 juta, Ramli dan Sia kemudian sepakat kawin lari (silariang). Saat kawin lari itu, keduanya kemudian menikah sirih.

Terkait :   Akibat Cuaca Buruk Laga Juventus Dengan Atalanta Ditunda

Dua pekan kemudian, merasa tak lengkap tanpa keluarga, Ramli kemudian bermaksud untuk “akbaji'” atau kembali memperbaiki hubungan dengan keluarga Sia.

Namun menurut Ramli, keluarga Sia masih mematok syarat Rp15 juta.

Sementara kakak Sia, Hamid mengatakan, saat itu dimediasi imam yang merupakan kerabat Ramli. Keluarganya sudah menerima angka Rp10 juta.

“Mereka datang lagi untuk kembali baik, kami minta maharnya seperti permintaan Ramli sebelumnya, yaitu Rp10 juta, imamnya (kerabat Ramli, red) pun mengatakan menyanggupi dengan nilai seperti itu. Tapi waktu kembali lagi, tidak lagi sesuai kesepakatan, katanya kemampuannya hanya Rp5 juta saat itu. Artinya, dia tidak bisa memegang kata-kata, kami pun kembali tidak sepakat,” ungkap Hamid.

Kembali terganjal untuk kembali ke orang tuanya, Sia lalu depresi. Dia kemudian menenggak racun rumput yang ada di rumah Ramli di Desa Punagaya.

Melihat istrinya sekarat, Ramli kemudian melarikan Sia ke Puskesmas Bangkala. Oleh Puskesmas Bangkala, Sia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Padjonga Dg Ngalle di Takalar.

Karena tak punya BPJS, Ramli memasukkan istrinya sebagai pasien umum. Tiga hari dirawat, biaya membengkak. Karena kehabisan uang, Sia meminta pulang. “Kita pulang saja. Kita berobat di rumah saja,” ujar Sia.

Terkait :   Joan Laporta (Mantan Presiden Barcelona) - Thierry Henry , Pantas Latih Arsenal

Ramli menggenggam tangan istrinya, mencoba menguatkannya. Hari itu, Ramli kemudian membawa kembali Sia ke rumahnya di Punagaya. Dia lalu bekerja serabutan demi membeli obat untuk istrinya.

Senin, 8 Juli 2019. Ramli pulang dari kerja ketika melihat istrinya tak bergerak. “Sia…bangun Sia,” Ramli menggoyang-goyangkan tubuh sang istri. Namun tak ada respons.

Ramli berteriak minta tolong. Tetangga dan kerabat kemudian berdatangan. Mereka memeriksa nadi Sia. “Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ujar seorang kerabat. Ramli tak bisa membendung air matanya. Dia menangis.

Keluarga Sia kemudian datang mengambil jasad putrinya. Jasad Sia disemayamkan di rumahnya di Desa Banri Manurung. Tadi pagi, jasad Sia dimakamkan.

“Tadi pagi dimakamkan. Saya tadi pagi utus Bhabinkambtibmas ke sana untuk menghadiri pemakaman,” ujar Kapolsek Bangkala, Iptu Bachtiar, Selasa, 9 Juli 2019.

Kapolsek mengatakan, pihaknya bersama pemerintah kedua desa, sudah menggelar pertemuan kedua belah pihak. “Intinya, kerabat almarhumah ikhlas. Sampai saat ini tidak ada keberatan,” ujarnya. (R02)

Sumber: Rakyatku.com