Waspada!!197 Warga Siak Riau Terinfeksi HIV dan AIDS, Secara Estimasi 19.700 Orang sudah TERJANGKIT Virus Itu

2
0

ِPortal Berita Riau
Bagikan:

KORAN RIAU, SIAK – Sebanyak 197 Warga Siak Riau Terinfeksi HIV dan AIDS, jika dihitung dengan rumus, maka secara estimasi 19.700 orang sudah terjangkit virus itu.

Sebanyak 197 orang di kabupaten Siak dinyatakan terinfeksi HIV dan AIDS per 32 Desember 2018, dari jumlah tersebut dirinci sebanyak 104 orang terinfeksi HIV dan 93 orang AIDS.

“Dari data yang ada tersebut, Kabupaten Siak berada di peringkat lima besar di Riau,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Siak, Rozi Chandra pada Kamis (27/6/2019).

Pada 2019 jumlah masyarakat Siak terjangkit virus mematikan itu lebih kurang sama dengan 2018.

Namun angka pasti akan dipublis setelah 31 Desember 2019 mendatang.

Celakanya, jumlah ini meningkat drastis dalam 2 tahun terakhir untuk kabupaten Siak.

Sebelumnya hanya berjumlah 164 orang yang terjangkit.

Sedangkan Jumlah Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) tertinggi berada di Kecamatan Tualang yakni sebanyak 24 orang disusul dengan Kecamatan Siak sebanyak 19 orang.

Dia mengatakan, sejauh ini seluruh Kecamatan di Kabupaten Siak, sudah terinfeksi virus HIV dan AIDS.

Ia meminta kepada semua pihak agar terus melakukan sosialiasi kepada masyarakat tentang bahayanya HIV dan AIDS.

Bahkan sudah menyerang hingga ke kampung- kampung.

Dia juga menyebutkan, jumlah ini harus disikapi dengan arif dan kerja keras dari semua pihak.

Apabila dihitung dengan menggunakan rumus, program HIV AIDS 1 orang penderita HIV akan ada 100 orang di belakangnya sebagai pengikut.

Secara estimasi, Kabupaten Siak telah ada kurang lebih 19.700 orang yang terinfeksi virus HIV ini.

“Ini yang disebut dengan fenomena ‘gunung es’. Apabila dilihat prevalensi HIV dan AIDS di Kabupaten Siak, bahwa hampir semua golongan umur dan profesi telah terinfeksi HIV dan AIDS,” kata dia.

Menurut dia, kasus ini bukan lagi milik orang-orang atau kelompok tertentu saja.

HIV dan AIDS saat ini telah ditemukan juga pada ibu rumah tangga, wiraswasta, guru, ASN, pelajar dan mahasiswa.

Komisi Penanggulangan AIDS, selaku salah satu unsur pemerintah yang diamanahkan untuk menanggulangi HIV dan AIDS telah berupaya semaksimal mungkin menekan angka tersebut.

Berbagai program dan kegiatan telah dilaksanakan.

Namun upaya-upaya tersebut tidak akan optimal tanpa adanya peran serta dari semua elemen masyarakat.

“Selain upaya yang kita lakukan, juga harus ada kesadaran dari masyarakat supaya tidak lagi ‘jajan’ di luar, kemudian tanamkan rasa cinta dan sayang kepada keluarga,” kata dia.

Sementara itu, sebanyak 5.000 orang warga Riau mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) hingga Oktober 2018, atau bertambah 1.000 orang dari tahun 2017.

Jumlah ini terungkap dalam puncak peringatan Hari AIDS se-Dunia oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau dan Pemerintahan Provinsi Riau pada Minggu (2/12/2018) bekerjasama dengan Transmart Pekanbaru.

Kegiatan itu berlangsung di lantai dasar Transmart Pekanbaru dan diramaikan dengan berbagai even mulai dari perlombaan dan pemerikasaan kesehatan.

Ratusan masyarakat terlibat dalam kegiatan ini selama satu hari kegiatan berlangsung.

Mulai dari anak-anak yang ikut serta pada lomba mewarnai, serta lomba musik akustik dan dance bagi para remaja.

Terkait :   Kasus Rubella Terjadi di Bengkalis

Pemerikasaan kesehatan mendapatkan sambutan meriah dari masyarakat atau pengunjung Transmart Pekanbaru.

Semua itu terselenggara gratis seperti pemeriksaan HIV, imunisasi MR, pemerikasaan kesehatan, pemeriksaan gizi, layanan kesehatan kulit dan kelamin, serta sharing session tentang kesehatan bersama beberapa dokter.

“Puncaknya Hari AIDS se Dunia sebenarnya kan 1 Desember, kita sudah melakukan berbagai macam kegiatan. Hari ini kita bekerjasama dengan Transmart Retail, beberapa pihak, Dinas Kesehatan, hingga Persatuan Dokter Spesialis Kulit Kelamin,” ungkap Manager Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau, Helmi Yardi.

Helmi menyebut, konsep kegiatan puncak Hari AIDS se Dunia di Transmart Pekanbaru melibatkan seluruh elemen, mulai dari anak-anak, ibu rumah tangga, dan anak muda.

Ketiga elemen itu bergabung menjadi satu sehingga sosialisasi tentang HIV dan AIDS lebih menyeluruh.

“Jadi tiga konsep itu yang kita pakai, kita libatkan anak-anak karena saat ini khasus HIV AIDS di Riau itu nomor tiga pada ibu rumah tangga, sehingga anak yang lahir dari ibu-ibu itu banyak yang positif HIV, pada saat mereka bersekolah, mereke dikucilkan dari pergaulaan. Ini jadi salah satu cara kita untuk mengedukasi masyarakat dan orangtua, bahwa kalau ada anak yang positif HIV tidak perlu dijauhi, dan tak perlu dikeluarkan dari sekolah,” jelasnya.

“Untuk orangtua, ibu rumah tangga juga jadi sasaran kita melakukan edukasi, agar mau test HIV. Untuk anak muda, 80 persen HIV itu diidap oleh usia muda, anak muda itu rentan, labil dan mudah melakukan hubungan seks beresiko, menggunakan narkoba, pakai tato bergantian jarum, sehingga kita edukasi disini melalui berbagai kegiatan,” tambah Dia.

Helmi mengaku, angka pengidap HIV di Riau terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

5.000 lebih masyarakat Riau kini menjadi pengidap HIV berdasarkan data terakhir Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau pada bulan Oktober.

Dibanding 2017, terdapat peningkatan di tahun ini sekitar 1000 penderita.

KPA sebagai komisi yang memiliki perhatian khusus terhadap penderta AIDS, terus berupaya melakukan berbagai program dengan cara bekerjasama dengan berbagai element masyarakat, dan stakeholder lainnya.

Sesuai instruksi Kementrian Kesehatan, KPA dalam programnya menerapkan konsep Getting To 3 Zeroes yang berarti Zero New HIV Infection dengan harapan tidak ada lagi temuan kasus HIV baru atau nol pada tahun 2030.

Kemudian Zero Stigma and Discrimination atau tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap ODHA, dan terkahir Zero AIDS Related Death yang berarti tidak ada lagi orang yang meninggal akibat HIV dan AIDS.

Untuk mewujudkan program tersebut tambah Helmi, KPA di Riau terus berkerjasama dengan berbagai pihak guna mensosialisasikan itu ke semua segmen.

“Di Riau KPA bekerjasama dengan semua SKPD di Riau, kalau dia dinas tenaga kerja, maka sasaran dia ke kedinasannya, kepada tenaga kerja dan kepada perusahaan. Intinya sama-sama bergerak, seluruh kegiatan dilakukan bersama sesuai tupoksinya,” terangnya.

Kasir Head Manager Transmart Pekanbaru, Nadia Indriani, menambahkan, keterlibatan Transmart pada peringatan puncak AIDS sedunia, adalah sebagai upaya sama-sama mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan terutama HIV dan AIDS.

Terkait :   SMPN 7 Kandis Taja Acara Nonton Bareng Film G30S/PKI, Ini Arahan Serma Yus Armin!

Dengan menyediakan lokasi sebagai tempat terselenggaranya event, diharapkan memudahkan KPA Riau mensosialisasikan pentingnya menjaga pola hidup sehat.

“Dengan event ini sosialisasi terkait penanggulangan dan pencegahan HIV menjadi lebih menarik. Kita ingin terlibat dalam kegiatan positif ini. Dimana orang-orang gak perlu malu periksa kesehatan, orang-orang bisa tahu banyak informasi dan pengetahuan seputar dunia kesehatan,” jelas Nadia.

Untuk mengingatkan kembali ingatan Anda tentang cara penularan HIV, simak ulasannya berikut ini.

Faktanya, memang masih banyak masyarakat yang belum paham betul mengenai cara penularan HIV dari orang yang terinfeksi. Bagaimana dengan Anda?

Dalam program edukasi Garuda Indonesia Peduli Kanker Serviks dan HIV dan AIDS di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, banyak peserta kuliah umum yang menjawab salah ketika ditanya seputar penularan HIV.

Mulanya konselor HIV dan AIDS dari RSUD Provinsi Kepulaun Riau, Tanjungpinang, dr. Dwinita Vivianti, SpPD melemparkan pertanyaan mengenai cara penularan HIV.

Dalam presentasinya, dokter yang akrab disapa Vivi ini menunjukkan gambar dan menanyakan apakah HIV menular lewat gigitan nyamuk, lewat penggunaan toilet duduk, bertukar alat makan, atau bisa menular dengan hanya bersalaman?

“Nomor berapa yang benar? Yang mana yang bisa menularkan HIV?” tanya Vivi kepada peserta kuliah umum di Tanjungpinang.

Ternyata banyak yang salah menjawab. Padahal, dari semua gambar yang ditunjukkan Vivi, tak ada satu pun cara yang bisa menularkan HIV.

Vivi kemudian menjelaskan satu per satu bahwa HIV tak mungkin menular lewat nyamuk, karena virus itu hanya menyerang manusia.

HIV juga tidak bisa menular ketika menggunakan toilet duduk yang baru saja digunakan pasien HIV dan AIDS, menggunakan alat makan yang sama, atau menular lewat keringat ketika bersalaman maupun berpelukan.


festa-de-casamento
“Biasanya mereka agak takut HIV menular lewat ganti tempat makan. Padahal kan enggak bisa menular lewat tempat makan. Di luar negeri ada koki hotel HIV positif, dia tetap dipekerjakan,” ungkap Vivi.
HIV hanya terdapat di darah, sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. Umumnya menular melalui hubungan seksual dan penggunaan napza suntik. Namun, ketika jumlah virus telah ditekan karena rutin konsumsi ARV, virus pun tak menular.

“Penularannya tidak mudah. Virus juga tidak bisa bertahan lama di luar tubuh,” jelas Vivi.

Vivi mengatakan, kurangnya pengetahuan masyarakat ini membuat stigma terhadap orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) masih tinggi, khusunya di daerah.

Edukasi HIV dan AIDS harus terus dilakukan hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia untuk menghapus stigma sekaligus menurunkan angka kejadian.

Vivi mengungkapkan, Kepulauan Riau pun menempati posisi ke-6 untuk jumlah pasien HIV dan AIDS tertinggi di Indonesia tahun 2014.

Di Kepulauan Riau, kasus HIV dan AIDS terbanyak terdapat di daerah Batam, kedua di Kabupaten Karimun, dan ketiga di Tanjungpinang.

“Kepulauan Riau ada di peringkat keenam dengan jumlah penduduk yang sedikit, menurut saya sudah lampu kuning ya. Harus segera diatasi dengan baik,” kata Vivi.

Sumber :TRIBUNPEKANBARU.com