Riau Alami MUSIM KEMARAU Bulan Juni dan Agustus, Namun Tetap Siagakan Posko Darurat Bencana

52
0

ِPortal Berita Riau
Riau Alami MUSIM KEMARAU Bulan Juni dan Agustus, Namun Tetap Siagakan Posko Darurat Bencana
Kabut asap mulai menyelimuti Kota Pekanbaru, Senin (4/3/2019). Riau Alami MUSIM KEMARAU Bulan Juni dan Agustus, Syamsuar Minta Tetap Siagakan Posko Darurat Bencana. Kebakaran Hutan dan Lahan atau Kahutla diperkirakan akan terjadi yang akan menimbulkan kabut asap. Dok.Tribun Pekanbaru/Doddy Vladimir
Bagikan:

BERITA RIAU, PEKANBARU – Riau alami musim kemarau bulan Juni dan Agustus, Gubernur Riau Syamsuar minta tetap siagakan Posko Darurat Bencana.

Gubenur Riau, Syamsuar memastikan seluruh kabupaten Kota di Riau sudah mendirikan posko tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Meski saat ini belum masuk musim kemarau, namun dirinya tetap mengingatkan kepada seluruh aparatur pemerintah hingga ke tingkat desa untuk terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar tidak membakar lahan.

“Posko sudah standbay di semua daerah, memang sekarang masih musim hujan, tapi kita tetap minta semua pihak untuk terus memberikan penyuluhan agar tidak membakar lahan, terutama di desa-desa yang rawan bencana kebakaran lahan,” kata Syamsuar Selasa (5/3/2019) di Kantor Gubenur Riau.

“Kita harus meningkatkan keaspadaan, apalagi nanti di bulan Juni sampai Agustus itu kan musim kering,” imbuhnya.

Syamsuar mengungkapkan, Riau saat ini memang menjadi perhatian pemerintah pusat.

Apalagi sejak kebakaran lahan mulai terjadi di awal tahun ini.

Sejumlah pejabat tinggi negara pun berdatangan ke Riau untuk memastikan penanganan kebakaran lahan di Riau agar bisa cepat diatasi.

Mulai dari kepala staf kepresidenan, panglima TNI dan terakhir adalan kepala PNPB yang baru saya meninggalkan Riau, Selasa (5/3/2019) pagi.

“Kepala BPPB awal Mei akan datang lagi ke Riau dalam rangka menhadapi persiapan masuknya musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi di bulan Juni,” ujarnya.

Terkait :   Salah Pergaulan, Mahasiswi Cantik di Pekanbaru Ini Lemas Saat Tertangkap Edarkan Narkoba

Sebelumnya, Kepala Bandan Nasional Penganggualan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo menyampaikan, jika pada tahun ini Indonesia akan mengalami El nino, dengan durasi waktu cukup panjang.

Namun pihaknyan berkeyakinan kondisi El nino ini mudah mudahan tidak sepanjang yang dianalisa sejumlah ahli.

Doni mengatakan, berdasarkan analisa BMKG, kemarau akibat Elnino ini akan di rasakan sangat kuat mulai awal Juni mendatang di Indonesia, sehingga seluruh komponen pemerintah dari pusat sampai daerah dan didukung TNI serta Polri perlu menyusun sejumlah rencana untuk mencegah dampak kemarau bisa menimbulkan bencana, terutama terkait bencana Kebakaran lahan termasuk di Bengkalis.

Menurut dia, langkah paling penting yang harus dilakukan dalam pencegahan Karhutla yakni sosialisasi ke masyarakat, sejak sekarang untuk tidak lagi membakar lahan.

“Sudah saya tanya tadi dengan Kepala Desa yang hadir, dimana persentasi kebakaran lahan terjadi karena tidak sengaja sangat rendah,” ungkap Doni.

Menurut dia sementara kebakaran lahan terjadi karena disengaja dengan tujuan membuka ladang persentasinya berada di tengah. Sedangkan yang ketiga persentasi paling besar penyebab Karhutla yakni masyarakat di bayar untuk membakar lahan yang paling tinggi

“Ini bukan pernyataan saya, tapi hasil dari yang saya tanya pada pertemuan Rakor tadi,” tambah Doni.

Karena yang paling besar persentasi kebakaran lahan terjadi disebabkan oleh disengajanya pembakaran oleh masyarakat karena di bayar, BNPB meminta pemerintah Bengkalis bersama peserta Rakor harus menyusun langkah langkah agar masyarakat tidak lagi mau membakar lahan.

Terkait :   Wilayah Seperti Ini yang Jarang Terjadi Kebakaran Lahan di Riau Ungkap Gubernur Syamsuar

“Sebaiknya langkah pencegahan ini dilakukan jauh jauh hari sebelumnya atau paling tidak sebulan sebelum kemarau terjadi,” tambahnya.

Untuk pencegahan masyarakat tidak akan membakar lahan lagi bisa dilakukan dengan kerjasama antara Dinas Pertanian, TNI, Polri, Perguruan tinggi, ulama serta tokoh masyarakat harus dilibatkan.

“Instansi terkait ini harus bersatu padu kemudian keliling ke desa untuk mensosialisasikan agar masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran lahan,” jelasnya.

Selain itu pihaknya berharap, pemerintah daerah harus melakukan kembali penataan ulang kawasan hutan di Riau.

Apalagi Gubernur sudah sampaikan tidak ada lagi pembukaan lahan hutan yang baru.

“Kita harap hutan yang sudah terlanjur menjadi lahan perkebunan seperti sawit harus di perbaiki di tanaman dengan jenis tanaman lainnya yang tetap memiliki nilai ekonomi juga. Seperti kopi liberika, aren serta sagu karena sudah ada bukti di Riau ini sudah ada kabupaten yang sukses mengelola sagu bahkan susah di Ekspor,”pungkasnya.

Menurut dia untuk menerapkan ini perlu formulasi baru yang harus dirumuskan.

“Perlu kerjasama dengan tim dari perguruan tinggi dan peneliti untuk mewujudkan ini,” tandasnya.

Usai memaparkan langkah langkah Kesiapsiagaan ini Kepala BNPB melakukan peninjauan posko BPBD Bengkalis.

Kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Pekanbaru.

Riau Alami MUSIM KEMARAU Bulan Juni dan Agustus, Syamsuar Minta Tetap Siagakan Posko Darurat Bencana.