Wilayah Seperti Ini yang Jarang Terjadi Kebakaran Lahan di Riau Ungkap Gubernur Syamsuar

37
0

ِPortal Berita Riau
Wilayah Seperti Ini yang Jarang Terjadi Kebakaran Lahan di Riau Ungkap Gubernur Syamsuar
Senin, 4 Maret 2019 13:43 Gubernur Syamsuar Ungkap Wilayah Seperti Ini yang Jarang Terjadi Kebakaran Lahan di Riau BPBD Dumai FOTO ILUSTRASI - Proses pemadaman api dan pendinginan lahan pasca kebakaran hutan dan lahan. Dok. Istimewa
Bagikan:

KORAN RIAU, Gubenur Riau (Gubri) Syamsuar mengimbau semua pihak agar waspada terhadap kebakaran lahan di wilayahnya masing-masing.

Sebab saat ini Riau akan memasuki musim kering. Data dari BMKG puncak musim kemarau di Riau terjadi di bulan Juni hingga September mendatang.

“Kita harus melakukan penanganan dan pencegahan, semua pihak harus bersinergi untuk menyelesaikan persoalan kebakaran lahan dan hutan di Riau,” kata Syamsuar disela kegiatan pemanfaatan TMC guna meminimalisir dampak Karhutla di Provinsi Riau, di Komplek Lanud Roesmin Nurjadin, Senin (4/3/2019).

Selain Gubenur Riau, juga tampak hadir di lokasi acara ketua BMKG Pusat Dwikorita, Kepala BNPB Pusat Letjen TNI Doni Munardo, Danlanud Marsma TNI Ronny Irianto Moningka serta perwakilan dari Kementerian LHK dan BRG.

Syamsuar menekankan, kewaspadaan harus ditingkatkan di desa-desa yang banyak lahan gambutnya.

Sebab sejauh ini kebakaran lahan di Riau banyak terjadi di lahan gambut.

“Kita sudah lakukan pemetaan desa-desa yang rawan khususnya di lahan gambut. Karena di Riau yang jarang terbakar itu lahan yang tidak banyak gambutnya. Kemarin kami ke Kuansing, disana hampir tidak ada kebakaran, kerana memang disana sedikit lahan gambutnya,” katanya.

Selain itu, Syamsuar juga mengimbau semua lapisan masyarakat dan perusahaan agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Karena banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuka lahan tanpa harus membakarnya.

Terkait :   Antisipasi Kejahatan, Satgas Turbinjali Polresta Pekanbaru Patroli Dialogis di Tempat Wisata

“Mulai sekarang kita harus ramah dengan lingkungan,” katanya.

Syamsuar juga mengaku tidak akan memberikan izin kepada siapapun untuk membuka lahan dengan cara menebang hutan. Sebab di Riau hutanya sudah semakin sedikit.

“Saya tidak akan memberikan kesempatan untuk membuka lahan perkebunan lagi, karena memang hutan kita sudah tidak ada lagi,” ujarnya.

Sementara Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat, Dwikorita Karnawati mengungkapkan, bulan Maret ini merupakan waktu yang paling tepat untuk melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Sebab Maret ini merupakan masa peralihan cuaca dari musim hujan ke musim kering.

“Apa yang sudah dilakukan oleh tim gabungan untuk melakukan hujan buatan di bulan Maret ini sudah tepat. Karena pada bulan Maret ini memang terjadi pergantian caua dan akibat pergantian itu terjadi kelembaban udara dan arah angin yang cukup ideal untuk hujan buatan. Kita berharap ini bisa sukses,” kata Dwikonita disela kegiatan pemanfaatan TMC guna meminimalisir dampak Karhutla di Provinsi Riau, di Komplek Lanud Roesmin Nurjadin, Senin (4/3/2019).

Berdasarkan data dari BPBD Riau, hingga Sabtu (2/3/2019) kemarin, total luas lahan di Riau yang terbakar mencapai 1.375,41 hektare. Terluas ada di Kabupaten Bengkalis yang mencapai 900,5 hektare. Kemudian di Rohil 218 hektare. Dumai 84,5 hektare. Siak 50,25 hektare. Inhil 38 hektare. Meranti 35,4 hektare. Pekanbaru 21,51 hektare. Kampar 19 hektare dan Pelalawan 8 hektare.

Terkait :   Titik Panas Terpantau Tiga Titik di Pelalawan

Pemadaman kebakaran lahan di Riau selain dilakukan melalui jalur darat juga dilakukan melalui jalur udara dengan waterbombing atau pengeboman air.

“Hari ini waterbombing dilakukan di wilayah Sokop, Meranti. Karena sampat saat ini memang di wilayah ini masih cukup parah,” kata Kepala Dearah Operasi (Daops) Manggala Agni Riau, Edwin Putra, Minggu (3/3/2019).

Sejauh ini, sudah ada 4 unit helikopter dikerahkan untuk melakukan pengeboman air waterbombing dari udara di area kebakaran lahan di Riau.

Empat unit heli tersebut 1 adalah bantuan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), 1 unit dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan 2 unit dari perusahaan sinar mas.

Selain 4 helikopter yang dikerahkan untuk melakukan waterbombing, terdapat satu pesawat yang dioperasikan khusus untuk Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Sepanjang tahun 2019 ini, mulai awal Januari hingga akhir Februari, kita mencatat sebanyak 1.513.000 liter air ditumpahkan ke area lahan yang terbakar denga cara waterbombing dari udara,” kata.

Kabid Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Jim Gofur akhir pekan lalu.

 

Sumber : Tribunpekanbaru.com