ATRAKSI Lumba-lumba di Pekanbaru dapat Penolakan Pecinta Satwa, Berikut Penjelasan Pengeloloa Acara

124
0

ِPortal Berita Riau
ATRAKSI Lumba-lumba di Pekanbaru dapat Penolakan Pecinta Satwa, Berikut Penjelasan Pengeloloa Acara
ATRAKSI Lumba-lumba di Pekanbaru dapat Penolakan Pecinta Satwa, Ini Kata Pengelola Acara (Tribun Pekanbaru/Theo Rizky)
Bagikan:

KORAN RIAU, PEKANBARU – Atraksi lumba-lumba yang digelar di depan kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji Pekanbaru dapat penolakan pecinta satwa, ini kata pengelola acara.

Sejumlah masyarakat pecinta satwa menggelar aksi menolak pertunjukan atraksi atau pentas lumba-lumba dan aneka satwa, tak jauh dari arena tempat berlangsungnya pertunjukan.

Dalam aksinya, belasan massa tersebut membawa spanduk yang isinya mengecam eksploitasi terhadap satwa.

Menurut Koordinator Aksi, Ridho Illahi kepada Tribunpekanbaru.com pada Senin (14/1/2019) menyebutkan, kegiatan tersebut merupakan edukasi agar masyarakat tidak ikut serta mendukung ekploitasi hewan.

“Ke depannya semoga tidak ada lagi atraksi atau sirkus satwa karena negara Indonesia adalah negara terakhir yang menggunakan sirkus satwa,” ujar Ridho

Senada dengan Ridho, seorang pesarta aksi bernama Violetta Hasan Noor menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bagian untuk mengajak masyarakat di Pekanbaru supaya tidak terlibat mengikuti pertunjukan lumba-lumba.

“Karena mereka tidak tahu bagaimana lumba-lumba dilatih yang intinya adalah ekploitasi. Pada pinsipnya kami masyarakat Riau yang mencintai satwa tidak akan berhenti menyuarakan ini sampai benar-benar tidak ada lagi eksploitasi terhadap lumba-lumba maupun hewan lainnya,” ujar wanita yang akrab disapa Vivi tersebut.

Terkait :   Antisipasi Kejahatan, Satgas Turbinjali Polresta Pekanbaru Patroli Dialogis di Tempat Wisata

Dijelaskannya, salah satu cara yang tepat untuk menghentikan eksploitasi ini adalah mengedukasi masyarakat.

Seperti yang akan dilakukan pada Jumat depan, kita akan ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi murid-murid, mengajari apa sih sebenarnya latar belakang sirkus lumba-lumba itu, bagaimana mereka diperlakukan, bahwa pertunjukan membuat mereka stres, dan banyak yang tidak tahu bagaimana proses lumba-lumba sampai ke sirkus itu, bagaimana cara mereka membawanya dengan kondisi yang sangat sempit,” ujarnya.

Masih menurut Vivi, lumba-lumba yang diekploitasi melalui sirkus tidak akan bisa berumur panjang.

“Misalnya dalam lautan bebas bisa hidup sampai 40 tahun, tapi kalau disini bisa hidup  lima sampai enam tahun, dan bahkan ada penelitian di negara lain, ada beberapa lumba-luba yang bunuh diri karena tidak tahan dengan kondisi ini. Kita sebagai masyarakat ingin menyuarakan mereka, karena lumba-lumba tidak bisa ngomong,” kata Vivi.

Sementara itu, Manager Operasional Atraksi atau Pentas Lumba-lumba dan Aneka Satwa, Tommy Alfredo kepada Tribunpekanbaru.com merespon aksi damai itu dengan positif.

Menurutnya, dimanapun pihaknya mengadakan pertunjukan, baik di kota-kota besar maupun daerah lainnya, selalu ada yang namanya pro dan kontra.

Terkait :   Hari Juang Kartika Ke 72, Polresta Berikan Surprise ke Kodim 0301/Pekanbaru

“Tapi dilihat dari segi positif saja, dalam artian, kita itu legal, izin semuanya ada, terus eksploitasi, itu yang dimaksud eksploitasi seperti apa? Kita penyayang  binatang, lumba-lumba kita kasih makan, kita ada dokter hewannya, kemudian dari segi kesehatan kita selalu sangat memperhatikan sekali dengan ikan-ikan yang segar,” ujar Tommy.

Dijelaskannya, pihaknya tidak mempermasalahkan dengan aksi-aksi yang dilakukan di dekat arena pertunjukannya.

“Ya, tidak apa silahkan, pokoknya itu kebebasan untuk seluruh warga Indonesia. Namanya aksi demo dan aksi apapun, maupun aksi orasi itu tidak dilarang,” katanya lagi.

Namun, Tommy berharap agar masyarakat tidak dibuat bingung oleh aksi yang disampaikan tersebut.

“Kita itu dibilang ekploitasi, dan kita dibilang penyiksa binatang, itu salah besar, bagaimanapun lumba-lumba  itu kita rawat, sesuai dengan legalitas yang ada, sesuai dengan peraturan dari Kementerian Kehutanan dan semua legalitas itu ada. Baik dari perizinan keramaian, BBKSDA dan dari kementerian ada, komplit dan lengkap sekali,” tutup Tommy.

Sumber : Tribunpekanbaru.com