Mengenal Black Box, Pengungkap Sebab Kecelakaan Pesawat Lion Air JT – 610

13
0
Mengenal Black Box, Pengungkap Sebab Kecelakaan Pesawat
Sebuah Flight Data Recorder (FDR) ikut ditampilkan saat Ketua KNKT Tatang Kurniadi memberikan penjelasan tentang instrumen yang ada dalam kotak hitam (Black Box) di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalteng, Selasa (13/1/2015).(Liputan6.com/Andrian M Tunay)

KORAN RIAU, Jakarta – Salah satu bagian dari black box atau kotak hitam pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Tanjung Karawang telah ditemukan. Kotak berwarna oranye itu ditemukan sekitar 500 meter dari lokasi yang diduga menjadi tempat hilangnya pesawat tersebut.

Black Box merupakan bagian penting dari pesawat untuk menentukan penyebab kecelakaan pesawat terbang. Fungsi dari alat ini adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) bandara dan mengetahui tekanan udara serta kondisi cuaca selama penerbangan.

Kotak hitam itu sejatinya tak berwarna hitam, melainkan berwarna oranye. Investigator KNKT Ony Soeryo Wibowo‎ mengatakan kotak hitam itu biasanya ditempatkan pada bagian ekor pesawat.

Warna oranye sengaja dipilih untuk membedakan dengan semua komponen elektronik ‎di pesawat.

“Semua komponen elektronik di pesawat disebut black box dan berwarna hitam. Nah, untuk membedakan mana FDR (flight Data Recorder) dan CVR (Cockpit Voice Recorder), maka kotak itu berwarna oranye,” kata Ony yang ditulis pada Kamis (1/11/2018).

Ony mengatakan, dunia penerbangan internasional baru menyepakati FDR dan CVR berwarna oranye sekitar tahun 1980-an. Sebelumnya, semua komponen elektronik pada pesawat, termasuk FDR dan CVR, memang berwarna hitam. Tujuannya untuk menyerap hawa panas dan mengeluarkannya ke luar pesawat.

FDR dan CVR disebut juga sebagai kotak hitam lantaran punya filosofi tersendiri. Bahwa hitam identik dengan gelap dan diasosiasikan pada misteri.‎ Itu sebabnya, FDR dan CVR disebut sebagai kotak hitam karena merepresentasikan misteri di balik kecelakaan sebuah pesawat.

“Disebut hitam, karena hitam merepresentasikan misteri. Dia merekam misteri dari sebuah peristiwa kecelakaan pesawat,” kata Ony.

Kotak hitam sejak 1980-an diwarnai oranye juga karena alasan agar mudah ditemukan, selain juga supaya berbeda dengan kotak hitam lainnya yang ada di pesawat.

Mengingat, kecelakaan sebuah pesawat tak dapat ditentukan terjadi di mana. Bisa di laut atau bisa juga di daratan. Sehingga, dengan warna khasnya itu, FDR dan CVR dapat “menyala” di dalam gelap.

Lebih jauh Ony menjelaskan bahwa pesawat umumnya juga memiliki lebih dari dua alat perekam. Namun, semua aktivitas perekaman terpusat pada FDR dan CVR. Kedua perekam itu diletakkan di bagian ekor juga karena maksud tertentu.

Terkait :   Mengagumkan... Ternyata Ipda Auzar yang gugur ditabrak teroris punya pesantren dan panti yatim piatu

“Ditaruh di ekor itu untuk menghindarkan kerusakan parah saat terjadi benturan. Kalau di ekor, kan, kemungkinan terkena benturannya paling kecil,” ujar Ony.

Bagi Ony dan rekan-rekannya di KNKT menyingkap tabir misteri si kotak hitam harus dilakukan. Meski tentunya, menyimpulkan hasil akhir dari investigasi kecelakaan pesawat bukan perkara mudah dan perlu waktu yang tak sebentar.

“Membaca black box, cepat atau lamanya itu tergantung kerusakan,” kata investigator KNKT, Nurcahyo Utomo.

Menurut dia, jika kotak hitam itu rusak, misal terbakar kabel-kabel di dalamnya,‎ maka KNKT harus membawa kotak tersebut ke negara pembuat. Di sana kabel-kabel atau komponen listrik yang sudah rusak akan diganti dengan yang baru. Baru setelah itu, rekaman pada FDR dan CVR bisa diunduh.

FDR dan CVR sendiri memiliki kemampuan rekaman yang terbatas dan overwrite atau menimpa rekaman sebelumnya. Maksudnya, FDR dan CVR akan merekam segala aktivitas dan pembicaraan selama 30 menit. Kemudian rekaman 30 menit berikutnya akan menimpa dan otomatis menghapus rekaman 30 menit sebelumnya.

“Jadi rekaman menit ke-31 akan menghapus rekaman menit ke-1, menit ke-32 akan menggantikan menit ke-2 begitu seterusnya sampai menit ke-60 menimpa menit ke-30. Dan itu berlaku terus sampai black box itu berhenti merekam karena terputusnya aliran listrik,” ujar Nurcahyo.

Pilot pesawat Boeing ini menambahkan, membaca rekaman juga tak sekadar mendengarkan. Selain harus mendengarkan setiap kata yang keluar tiap detiknya, para investigator KNKT ini juga harus mengerti makna dan maksud pembicaraan di dalam rekaman itu.

Dia mencontohkan kecelakaan Sukhoi Super‎jet 100 di Gunung Salak pada 2012 silam. Kata Nurcahyo, kedua pilot merupakan warga negara Rusia.

“Ada satu pembicaraan si pilot ngomong ‘apa ini’. Apa ini dan kenapa ini berbeda pada bahasa Indonesia. Kita panggil pilot Rusia lain yang sudah lama tinggal di Indonesia, ternyata apa ini dan kenapa ini pada bahasa Rusia sama maksudnya,” ucap Nurcahyo.

 

Sumber : Liputan6.com

0%
like
0%
love
0%
haha
0%
wow
0%
sad
0%
angry
Portal Direktori UKM Indonesia

#Follow News : Riau | Berita Riau | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Portal Berita RiauPortal Berita Pekanbaru

#Jasa Web : Riau | Jasa Web Riau | Jasa Web Pekanbaru | Jasa SEO Riau | Jasa SEO PekanbaruJasa SEO Web Kampar | Jasa SEO Web Siak | Walikota Pekanbaru | Jasa SEO Web InhuJasa SEO Web Inhil | Jasa SEO Web Bengkalis | Jasa SEO Web Rohil | Jasa SEO Web Meranti | Jasa SEO Web Dumai | Jasa SEO Web Kuansing | Jasa SEO Web Pelalawan| Jasa SEO Web Rohul | Portal Berita Riau

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.