Warga Dumai Terpaksa Beli Air Rp 120 Ribu per Tangki.

16
0
Warga Dumai Terpaksa Beli Air Rp 120 Ribu per Tangki.
Satu infrastruktur pipa di PDAM Tirta Dumai Bersemai. Proses pembangunan infrastruktur Sistem Penyediaan Air Bersih dimulai pada 2019 mendatang. (Tribun Pekanbaru/Fernando Sikumbang)

KORAN RIAU, DUMAI – Warga Dumai terpaksa membeli air ke penjual keliling.

Seperti dilakukan Bambang, yang setiap pekan merogoh kocek Rp 120 ribu untuk satu tangki air berkapasitas 5000 liter.

Bambang sangat terbantu saat hujan, karena ia bisa menampung air di tangki.

“Tapi kalau jarang hujan, ya terpaksa beli air bersih. Kalau ngga, istri tidak bisa nyuci,” katanya kepada Tribunpekanbaru.com, Jum’at (12/10/2018).

Warga Kelurahan Jaya Mukti ini mempunyai air sumur, tapi airnya tidak jernih.

Air gambut dari sumur tidak bisa dipakai mencuci, apalagi untuk pakain putih. Air bersih pun digunakan untuk mandi.

“Jadi kalau untuk mandi dibeli dan disimpan di tangki. Kalau untuk minum dan masak ya harus beli air galon,” katanya.

Wali Kota Dumai, Zulkifli AS menyebut, PDAM Tirta Dumai baru bisa salurkan air 40 liter per detik.

Ia berencana mempersiapkan kapasitas 100 liter per detik, untuk mengaliri 12 ribu sambungan rumah.

Menurutnya, PDAM saat ini sedang mengoptimalkan pengolahan air dengan uprating 40 liter per detik.

PDAM juga berbenah dengan mendata lagi pelanggan, penggantian water meter, penambahan jaringan sambungan rumah hingga perbaiki titik kebocoran.

“Mereka juga harus melengkapi laboratorium air di PDAM, serta lakukan pemeliharaan pipa transmisi dan distribusi,” terang Politikus Partai Nasdem beberapa waktu lalu.

Zul AS mengatakan, PDAM Tirta Dumai Bersemai sedang berupaya mendapat bantuan untuk Sistem Peyediaan Air Minum (SPAM) eksisting dapat dari Bank Dunia senilai Rp 27 miliar.

Dana ini untuk rehabilitasi dan optimalisi SPAM eksisting melalui program NUWAS (National Urban Water Supply).

Dana ini untuk merehab intake, jaringan pipa transmisi dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang eksisting di Jalan Jendral Sudirman.

Pembangunan akan dilakukan pemerintah pusat melalui satker air minum. Proses tender pada tahun 2019 mendatang.

Nantinya PDAM Dumai hanya menyiapkan sambungan rumah atau SR.

Mereka menargetkan 2000 SR untuk penyerapan progtam bantuan bank dunia ini.

Pelayanan air bersih di Kota Dumai saat ini tidak cuma perpipaan.

Ada juga program non perpipaan.

 

Program ini baru melayani 900 SR dalam rentang tahun 2012 hingga 2018.

Program ini menyediakan air bersih dengan akses sumur dalam.

Lokasinya tersebar di kawasan pinggiran Kota Dumai.

Air Bersih

Kesulitan air bersih pun dialami warga di pesisir, seperti di Indragiri Hilir dan Dumai.

Di Inhil, air bersih bisa dibilang suatu hal yang sangat berharga bagi masyarakat di Negeri Seribu Parit ini.

Kondisi air yang payau, bewarna, dan kadang berbau dan bercampur lumpur, menjadi pemandangan sehari-hari.

Air Sungai Indragiri ini menjadi andalan masyarakat sehari-hari.

Seperti diakui Jumarni, warga Desa Mumpa, Kecamatan Tempuling.

“Dari dulu air itulah (air sungai, red)) yang kami konsumsi. Sebenarnya tidak layak diminum, cuma karena kebiasaan dari dulu dan untuk mendapatkan air yang sangat bersih itu sulit, makanya air sungai itu yang kami konsumsi,” ujar Jumrani kepada Tribunpekanbaru.com, Jumat (12/10/2018).

Ajib, warga Desa Teluk Nibung, Kecamatan Pulau Burung, terpaksa mengandalkan air hujan untuk konsumsi sehari-hari.

“Mayoritas air hujan bang, sisanya pakai air galon. Di sini kalau untuk mandi dan mencuci menggunakan air sumur, Bang, untuk masak biasanya menggunakan air hujan,” ujar warga yang tinggal dekat laut, kepada Tribunpekanbaru.com.

Terkait :   Dua Helikopter Bantuan Pusat Tiba di Riau

Ajib mengatakan, meskipun kualitas air semakin membaik jika jauh dari laut, namun kualitas air tanah masih tidak layak untuk dikonsumsi karena masih bewarna.

“Semakin jauh dari laut kualitas air semakin baik sih. Tapi karena gambut tetap berwarna merah bang,” keluhnya.

Pembuatan sumur bor pun merupakan hal yang masih langka karena besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

“Sampai sekarang pihak desa masih terus berusaha membuat sumur bor yang bisa dinikmati masyarakat,” katanya.

Namun Jumrani mengakui, saat ini kondisi agak berubah dengan adanya depot-depot air galon.

Kini sebagian masyarakat pun menggunakan air galon, selain itu dari air hujan dan sumur bor (Pamsimas)

“Namun sekarang ini kan banyak air galon , sumur bor (Pamsimas), sehingga boleh dikatakan tidak ada lagi masyarakat yang mengkonsumsi langsung air laut (sungai) itu tidak ada lagi. Sekarang tidak ada keluhan mengenai air karena tertutup dengan air galon sangat terbantu karena gampang mendapatkannya,” katanya.

Air Baku

Plt Direktur Utama PDAM Tirta Indragiri, Tembilahan, Abd Muin, mengakui, kesulitan air bersih di daerahnya.

Menurutnya, air masyarakat menjadi asin saat kemarau panjang, karena pengaruh air laut masuk ke dalam tanah

PDAM Tirta Indragiri, katanya, kesulitan mencari air baku untuk diolah.

Mereka terpaksa mengolah air sungai untuk dialirkan ke masyarakat.

Ini rata-rata terjadi di sejumlah instalasi PDAM di Tembilahan dan di hulu, seperti Kecamatan Tempuling, Kempas, dan Kemuning.

Air baku semakin sulit di daerah yang berhamparan langsung dengan laut, seperti di Sungai Guntung, Kateman, Pulau Burung.

PDAM belum bisa mengolah air laut yang asing. Di daerah ini, PDAM mengolah air hujan yang ditampung di dalam kanal.

“Air kanal ini terbatas juga, karena mengandalkan air hujan, kalau kemarau dia menyusut. Kalau sebulan tidak hujan berkurang, kalau kemarau panjang bisa kering. Jadi kalau daerah air asin, air bakunya yang susah, kalau di Tembilahan karena ngambil di air sungai, jadi takkan habis dia. Kalau ngebor paling berapa tahun nantik habis dia, contohnya di Kelurahan Sungai Piring sudah habis,” jelas Abd Muin kepada Tribun, Jumat (12/10/2018).

Ada 15 ribu pelanggan di 20 kecamatan yang dikelola PDAM Tirta Indragiri dengan mengandalkan 22 unit instalasi.

Sayangnya, katanya, pihaknya menghadapi kendala anggaran.

Empat instalasi PDAM terpaksa ditutup karena ongkos produksi yang tinggi.

Keempatnya ada di Kota Baru, Kecamatan Keritang, Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, Kecamatan Pulau Burung, dan di Desa Pengalihan, Keritang.

Namun ia mengaku akan semaksimal mungkin agar masyarakat mendapatkan yang terbaik.

“Air memang belum layak diminum langsung, namun masalah kualitas tergantung dana. Kalau ada dana akan kita usahakan lebih ini. Tapi kalau untuk langsung minum belum bisa, soalnya jaringan kita masih gabung, kalau satu bocor yang lain terimbas, mudah – mudahan kita berangsur akan menangani masalah itu dengan segera,” tuturnya.
Sumer : Tribunpekanbaru.com

0%
like
0%
love
0%
haha
0%
wow
0%
sad
0%
angry
Portal Direktori UKM Indonesia

#Follow News : Riau | Berita Riau | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Portal Berita RiauPortal Berita Pekanbaru

#Jasa Web : Riau | Jasa Web Riau | Jasa Web Pekanbaru | Jasa SEO Riau | Jasa SEO PekanbaruJasa SEO Web Kampar | Jasa SEO Web Siak | Walikota Pekanbaru | Jasa SEO Web InhuJasa SEO Web Inhil | Jasa SEO Web Bengkalis | Jasa SEO Web Rohil | Jasa SEO Web Meranti | Jasa SEO Web Dumai | Jasa SEO Web Kuansing | Jasa SEO Web Pelalawan| Jasa SEO Web Rohul | Portal Berita Riau

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.