Warga Mulai Kehilangan Sumber Air Bersih, Akibat Dari Aktifitas Tambang Batu Bara

108
0

ِPortal Berita Riau
Warga Mulai Kehilangan Sumber Air Bersih, Akibat Dari Aktifitas Tambang Batu Bara
Penampakan Lokasi pertambangan batu bara PT Samantaka di foto dari udara.
Bagikan:

KORAN RIAU,  RENGAT – Terungkap dari keterangan saksi dalam persidangan, aktifitas tambang batubara di Peranap membuat warga kehilangan sumber air bersih.

Pengadilan Negeri (PN) Rengat kembali menggelar sidang gugatan warga Peranap terhadap perusahaan tambang batubara, PT Samantaka.

Sidang yang digelar pada Senin (3/9/2018) diagendakan untuk mendengarkan keterangan saksi dari pihak perusahaan.

Pada persidangan itu, penggugat mengahdirkan dua orang saksi yang merupakan warga Desa Pauhranap, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Seorang saksi bernama Musliatan Manulang mengungkapkan bahwa, akibat aktifitas pertambangan batu bara itu, mereka kehilangan sumber air bersih.

“Selama ini kami membuat sumur di tepi sungai itu, namun sekarang sungai itu sudah meluap akibat ditimbun batu bara, sehingga lahan di tepi sungai itu sekarang sudah menjadi danau akibatnya kami kehilangan air bersih,” katanya.

Terkait :   Kampar Tambah Koleksi Emas dari Panjat Tebing Kategori Boulder Beregu Putra

Musliatan berkata, karena kondisi itu mereka terpaksa membeli air dari untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk dikonsumsi.

Selain itu, pihak penggugat juga menghadirkan seorang saksi untuk menjelaskan bahwa lahan tersebut sebelumnya pernah diganti rugi untuk pembangunan rumah ibadah.

Alvon Siregar, salah seorang saksi mengungkapkan bahwa sebelumnya masyarakat setempat sudah mengganti rugi sejumlah tanaman sawit Idris sekaligus melakukan pembelian tanah untuk membangun rumah ibadah.

“Waktu itu satu tanaman sawit kami beli seharga Rp 1,5 juta per batang. Sementara tanahnya kami beli seharga Rp 35 juta,” kata Alvon Siregar.

Kini, di atas tanah yang dibeli warga itu sudah dibangun Gereja GKPI.

Dody Fernando, kuasa hukum Idris yang merupakan penggugat dalam perkara ini mengatakan bahwa ganti rugi yang dilakukan warga tersebut menjadi acuan untuk ganti rugi terhadap tanaman sawit kliennya yang mati karena terendam air sungai.

Terkait :   DPRD Riau Gelar Paripurna Bahasn Tiga Agenda Penting

“Perhitungan ganti rugi itu belum dihitung dengan masa panen sawit dan umur sawit, karena sudah setahun belakangan tanaman sawit milik klien saya sudah tidak bisa berproduksi,” kata Dody.

Sebelumnya, PN Rengat juga menggelar sidang pemeriksaan setempat untuk mengecek lokasi tambang milik PT Samantaka Batu Bara tersebut.

 

Sumber : Tribunpekanbaru.com