Di Sa’at Dieng Di Selimuti Embun Salju, Para Petani Maah Cemaskan Hal Ini

38
0
Di Sa'at Dieng Di Selimuti Embun Salju, Para Petani Maah Cemaskan Hal Ini
Dieng di selimuti embun salju, (Tribun Jogja/Hendra Krisdianto Artikel ini telah tayang di Tribunpekanbaru.com dengan judul Kala Dieng Diselimuti Embun Salju dan Dingin Bak Eropa, Petani Kentang Cemas, http://pekanbaru.tribunnews.com/2018/07/07/kala-dieng-diselimuti-embun-salju-dan-dingin-bak-eropa-petani-kentang-cemas?page=4. Penulis: Ariestia Editor: Ariestia)

KORAN RIAU, Hamparan tanaman yang biasanya menghijau di dataran tinggi Dieng, kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah, kini berubah memutih.

Helai demi helai daun dan batang tanaman diselimuti butiran putih embun es bak salju.

Embun beku kali ini terbentuk cukup tebal. Kemunculannya terlihat mulai subuh hari ini, Jumat (6/7/2018).

Fenomena alam ini bahkan mencakup wilayah cukup luas.

Tak hanya di seputar kawasan Candi Arjuna Dieng Banjarnegara, fenomena langka ini juga muncul hingga kawasan wisata Bukit Sikunir di Desa Sembungan Kecamatan Kejajar Wonosobo.

Suhu pun turun drastis hingga minus 5 derajat celcius.

Secara kasat mata, embun beku ini mungkin akan menampilkan pemandangan yang dianggap menarik oleh masyarakat Indonesia yang tak memiliki iklim bersalju.

Namun fenomena ini justru membuat para petani di wilayah itu kentang menjadi cemas.

Mengapa?

Embun es yang menempel menutupi lahan pertanian sudah menjadi suatu fenomena yang sudah lama terjadi di Dieng.

Oleh masyarakat setempat, embun beku ini dikenal sebagai embun upas atau bun upas atau es batu kristal.

Meskipun fenomena tersebut menarik perhatian wisatawan bun upas ditakuti.

Bun upas oleh petani bahkan disebut embun beracun lantaran bisa merusak tanaman pertanian.

Tanaman produktif warga yang kebanyakan berjenis kentang pun terancam mati.

Petani harus siap menanggung rugi karena gagal panen.

Padahal, rata-rata tanaman kentang warga telah berusia antara 1 bulan hingga 2 bulan.

Saat terik tiba, es yang melapisi tanaman akan mencair atau pecah.

Saat itu, tanaman biasanya akan langsung layu.

Gejala bun upas sebetulnya telah disadari warga sebelumnya.

Masyarakat Dieng mensinyalir gejala alam yang menandai munculnya fenomena tahunan itu.

Bukhori, warga Desa Sembungan Wonosobo mengatakan sejak tiga hari lalu, suhu di dataran tinggi Dieng amat panas.

Kemudian cuaca berubah mendung kehitaman, namun tiada angin berhembus kencang.

Fenomena bun upas juga ditandai penurunan suhu yang drastis.

Bukhori mengatakan, suhu Dieng saat ini sangat dingin hingga membuat tubuh menggigil.

Terkait :   3 Makanan Sehat Ini Bisa Bikin Kulit Cerah

“Mulai tiga hari lalu panas banget, terus mendung kehitaman, sunyi gak ada angin ya jadi es. Tubuh menggigil terasa kaku,” katanya.

BMKG Imbau Petani Antisipasi

Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Semarang mengimbau para petani sayuran wilayah Dieng mengantisipasi fenomena embun beku atau dikenal Embun Upas.

Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso, melalui rilis, mengatakan fenomena tersebut berbahaya bagi tanaman sayuran dan kentang.

“Sehingga perlu penanganan khusus berupa penyiraman tanaman di pagi hari sebagai upaya antisipasi,” tulis Tuban.

Embun Upas, lanjut dia, biasanya mulai muncul saat Bediding atau dalam istilah jawa disebut perubahan suhu yang mencolok khususnya di awal musim kemarau.

“Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi hari, sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat,” ungkapnya

Tuban mengimbuhkan, suhu udara pada musim bediding tidak sedingin daerah subtropis seperti Eropa. Tetapi sudah dapat membuat badan menggigil kedinginan, terutama di daerah dataran tinggi seperti dataran tinggi Dieng.

Hasil pantauan BMKG, pengamatan suhu dan kelembaban selama sepuluh hari terakhir di beberapa UPT BMKG di Jawa Tengah menunjukkan suhu minimum dan kelembaban udara yang rendah.

Dia berujar, kondisi suhu rendah diprakirakan semakin dingin pada puncak musim kemarau di bulan Agustus.

Tuban mengutarakan, secara umum Jawa Tengah sudah masuk musim kemarau. Angin timuran yang membawa yang membawa udara kering dan dingin sudah dominan.

Dia mengimbuhkan peluang terjadi hujan sangat kecil, karena tidak begitu banyak tutupan awan yang berpotensi hujan dan menahan energi matahari.

“Suhu udara cukup tinggi dengan kelembaban udara yang rendah terjadi pada siang hari dan suhu turun drastis pada malam hari, karena energi matahari yang terserap bumi terlepas bebas ke atmosfer bumi tanpa ada yang menahannya,” jelasnya.
Sumber : TribunnewsPekanbaru.com

0%
like
0%
love
0%
haha
0%
wow
0%
sad
0%
angry
Portal Direktori UKM Indonesia

#Follow News : Riau | Berita Riau | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Portal Berita RiauPortal Berita Pekanbaru

#Jasa Web : Riau | Jasa Web Riau | Jasa Web Pekanbaru | Jasa SEO Riau | Jasa SEO PekanbaruJasa SEO Web Kampar | Jasa SEO Web Siak | Walikota Pekanbaru | Jasa SEO Web InhuJasa SEO Web Inhil | Jasa SEO Web Bengkalis | Jasa SEO Web Rohil | Jasa SEO Web Meranti | Jasa SEO Web Dumai | Jasa SEO Web Kuansing | Jasa SEO Web Pelalawan| Jasa SEO Web Rohul | Portal Berita Riau

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.