Soal Fenomena Udara Dingin di Sejumlah Wilayah Indonesia, Begini Pernyataan BMKG ?

15
0
Soal Fenomena Udara Dingin di Sejumlah Wilayah Indonesia, Begini Pernyataan BMKG ?
Ilustrasi - Warga Dieng terlihat kedinginan jongkok di atas hamparan rerumputan yang membeku, 2 September 2017 lalu. (TribunnwsPekanbaru)

BERITA RIAU, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) angkat bicara mengenai fenomena aphelion yang marak diperbincangkan.

Dilansir TribunWow.com dari rilis yang disampaikan BMKG di laman resmi mereka, sejumlah masyarakat bahkan merasa resah dengan suhu udara dingin yang melanda wilayah mereka, yang kemudian dikaitkan dengan aphelion.

Menurut BMKG, suhu udara dingin yang bahkan mencapai 12 derajat Celcius di Ruteng (NTT) merupakan sebuah fenomena yang biasa terjadi.

Terutama di puncak musim kemarau (Juli-Agustus).

Selain di NTT, suhu udara dingin juga tercatat di sejumlah wilayah lain yang umumnya berada di dataran tinggi.

Penyebab Fenomena Udara Dingin

Penurunan suhu di bulan Juli ini lebih dominan karena di sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT, kandungan uap air di atmosfer cukup sedikit.

Hal tersebut tampak dari tutupan awan yang tidak signifikan beberapa hari terakhir.

Secara fisis, uap air adalah zat yang cukup efektif untuk menyimpan energi panas.

Dengan rendahnya kandungan uap air ini maka energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tak tersimpan di atmosfer.

Energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer juga tidak signifikan.

Akibatnya, suhu udara di Indonesia saat malam hari pada musim kemarau menjadi lebih rendah daripada saat musim hujan atau pancaroba (peralihan).

“Selain itu, pada bulan Juli ini wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering.
Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia (dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia) semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di wilayah Indonesia khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” ungkap Deputi Bidang Meteorologi Mulyono R. Prabowo dalam rilis yang diekluarkan BMKG.

Embun Beku

Suhu dingin pada malam hari dan embun beku yang terjadi di Dieng lebih dikarenakan kondisi metereologis dan musim kemarau.

Deputi Klimatologi Herizal mengatakan jika beberapa tempat di Jawa yang berada pada ketinggan, seperti pegunungan, diindakasikan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celcius.

Terkait :   Polisi Temukan Benda Terlarang Di Dalam Rumah Wanita Ini

Hal itu dikarenakan udara di daerah pegunungan lebih renggang sehingga lebih cepat mengalami pendinginan.

“Fenomena suhu dingin malam hari dan Embun beku di lereng pegunungan Dieng lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.

Pada saat puncak kemarau, memang umumnya suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering. Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa. Itu yang menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan. Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara.

Pada kondisi puncak kemarau saat ini di Jawa, beberapa tempat yang berada pada ketinggian, terutama di daerah pegunungan, diindikasikan akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0 derajat Celsius, disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan, lebih lebih pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan.

Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput. Air embun yang menempel dipucuk daun atau rumput akan segera membeku yang disebabkan karena suhu udara yang sangat dingin, ketika mencapai minus atau nol derajat.

Di Indonesia, beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini, yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru dan pegunungan Jayawijaya, Papua,” ungkap Herizal dalam rilis tersebut.

Fenomena Aphelion

Sementara itu, fenomena aphelion tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia.

Dikutip dari Hai-Online, aphelion merupakan titik terjauh bumi dari matahari.

Titik ini terjadi pada Jumat (6/7/2018) pukul 23.48 WIB.

Sedangkan kebalikannya adalah perihelion, yaitu jarak terdekat Bumi dengan Matahari.

Peristiwa inipun rutin terjadi setiap tahun dan tidak berbahaya bagi kehidupan di Bumi.
Sumber : Tribunnews.com

0%
like
0%
love
0%
haha
0%
wow
0%
sad
0%
angry
Portal Direktori UKM Indonesia

#Follow News : Riau | Berita Riau | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Portal Berita RiauPortal Berita Pekanbaru

#Jasa Web : Riau | Jasa Web Riau | Jasa Web Pekanbaru | Jasa SEO Riau | Jasa SEO PekanbaruJasa SEO Web Kampar | Jasa SEO Web Siak | Walikota Pekanbaru | Jasa SEO Web InhuJasa SEO Web Inhil | Jasa SEO Web Bengkalis | Jasa SEO Web Rohil | Jasa SEO Web Meranti | Jasa SEO Web Dumai | Jasa SEO Web Kuansing | Jasa SEO Web Pelalawan| Jasa SEO Web Rohul | Portal Berita Riau

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.