Foto Korban Kapal Sinar Bangun di Dasar Danau Toba Tampak Jelas Dengan Bantuan robot Remotely Operated Vehicle (ROV)

64
0
Foto Korban Kapal Sinar Bangun di Dasar Danau Toba Tampak Jelas Dengan Bantuan robot Remotely Operated Vehicle (ROV)
Tampak jelas korban Kapal Sinar Bangun Yang berada di dasar danau toba. (Sumber : Tribunewsmedan.com)

KORAN RIAU, Setelah perjuangan selama 11 hari tanpa henti, tim Basarnas berhasil menemukan objek yang diyakini sebagai bangkai KM Sinar Bangun yang tenggelam.

Bangkai kapal ditemukan tengah hari, tepatnya pukul 12.39 WIB, Kamis (28/6/2018).

“Setelah melakukan pencarian selama 11 hari non stop tanpa lelah, alhamdullillah akhirnya pada hari ini pukul 12.39 kami berhasil mendeteksi obyek dan mengenali bahwa obyek tersebut adalah bagian dari KM Sinar Bangun VI,” kata Humas Basarnas Marsudi seperti Tribunpekanbaru.com kutip dari Tribunmedan.com.

Kapal tenggelam bisa dideteksi berkat peralatan canggih yang digunakan yakni robot Remotely Operated Vehicle (ROV) yang dikirim sejak kemarin.

Menurut Marsudi objek bangkai kapal KM Sinar Bangun dapat terlihat dengan jelas, baik berupa foto maupun video.

“Baik korban, sepeda motor, maupun bagian kapal berupa kursi, tali yang terdeteksi pada posisi kordinat 247 04.144 N – 098 45 10.560 E,” katanya.

Bangkai kapal KM Sinar Bangun ditemukan pada posisi kurang lebih sejauh 4,3 km barat daya pelabuhan Tigaras.

Robot Remotely Operated Vehicle (ROV) merupakan alat yang memiliki fungsi yang tidak kalah penting dalam pencarian di bawah laut.

Kegunaannya yakni melihat kondisi baik di bawah danau maupun laut, hanya saja, ROV menampilkan gambar visual bergerak secara jelas, langsung, dan dapat dikontrol di atas permukaan laut untuk memastikan yang ditemukan oleh ketiga alat sebelumnya.

Deputi TPSA BPPT Hammam Riza menerangkan bagaimana proses pencarian badan pesawat AirAsia QZ8501 ini.

Untuk langkah awal, Tim BPPT menurunkan Multibeam Echo Sounder dilanjut dengan Side Scan Sonar yang ditarik ditarik Kapal BJ I beberapa meter di bawah permukaan laut.

Hammam menceritakan bagaimana teknologi survei kelautan berperan besar membantu BPPT dalam pencarian kotak hitam pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

“Multibeam nantinya akan memotret kondisi morfologi di dalam laut. Bila ada gundukan yang berbeda dari sekeliling, bisa diperkirakan itu berasal dari bangkai AirAsia yang hilang,” jelas Hammam.

Selanjutnya, Side Scan Sonar akan memetakan objek yang sebelumnya terekam bentuknya oleh Multibeam Echo Sounder.

Terkait :   Malang Banget Nasib Model Cantik Ini, Diculik dan Akan Dijadikan Budak Nafsu, Begini Kisahnya

Dengan menggunakan prinsip gelombang suara yang dipantulkan, hasil diproses menjadi gambar yang mirip foto udara, dan dapat terlihat secara langsung pada monitor komputer.

Usai kedua alat tersebut, Magneto Meter akan diturunkan untuk memastikan apakah yang ditemukan mengandung logam atau tidak.

“Kalau trafonya tinggi, berarti mengandung logam. Untuk memastikannya, kita turunkan alat terakhir ROV,” ucapnya.

ROV akan merekam benda di sekeliling temuan ketiga alat sebelumnya melalui padangan visual bergerak.

“ROV ini diturunkan jika memang sudah dipastikan lokasinya.

ROV bisa menyelam hingga kedalaman 2000m.

Kita bisa melihat kondisi langsung di bawah laut itu seperti apa, apakah itu memang benar bangkai pesawat AirAsia QZ8501 yang kita cari,” tutup Hammam.

Sebagai informasi Tim BPPT berhasil menemukan bagian ekor pesawat tepat di hari ke-sembilan pencarian, tepatnya tanggal 7 Januari 2015, dan merupakan tim pertama yang berhasil mengidentifikasi bangkai pesawat AirAsia QZ8501.

Empat hari berselang, Tim BPPT mengidentifikasi sinyal PING dari pesawat Air Asia QZ8501 berada disekitar 4 kilometer dari area temuan ekor pesawat AirAsia QZ8501.

Adapun kedua lokasi Black box dan ELT hasil survei Baruna Jaya J1BPPT itu adalah di titik kordinat: 03°37′20.7″S 109°42′43″E. Dan sinyal satu lagi berada pada kordinat: 03°37′21.13″S 109°42′42.45″E.

Dengan temuan tersebut Tim BPPT berhasil menyelesaikan misi yang diberikan Presiden RI, yaitu menemukan kotak hitam dari pesawat AirAsia QZ8501.

Menko Maritim RI kala itu, Indroyono Soesilo menegaskan bahwa hasil yang diperoleh tim BPPT ini perlu mendapat apresiasi.

Ini adalah bukti bahwa teknologi dibutuhkan dalam berbagai aspek, salah satunya dalam Operasi SAR Air Asia ini.

“Anda bisa bayangkan bahwa BPPT bukanlah ahli SAR, namun kemampuan teknologi akhirnya bisa menemukan hal penting ini. Ini bukti bahwa tidak hanya otot, tapi juga butuh otak (kemampuan teknologi) dalam menyelesaikan isu nasional seperti ini,” pungkasnya.

 

 

Sumber : Tribunnews.com

0%
like
0%
love
0%
haha
0%
wow
0%
sad
0%
angry
Portal Direktori UKM Indonesia

#Follow News : Riau | Berita Riau | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Portal Berita RiauPortal Berita Pekanbaru

#Jasa Web : Riau | Jasa Web Riau | Jasa Web Pekanbaru | Jasa SEO Riau | Jasa SEO PekanbaruJasa SEO Web Kampar | Jasa SEO Web Siak | Walikota Pekanbaru | Jasa SEO Web InhuJasa SEO Web Inhil | Jasa SEO Web Bengkalis | Jasa SEO Web Rohil | Jasa SEO Web Meranti | Jasa SEO Web Dumai | Jasa SEO Web Kuansing | Jasa SEO Web Pelalawan| Jasa SEO Web Rohul | Portal Berita Riau

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.