Tips Aman Dalam Memilah Ikan Kalengan

108
0

Berita Riau, Jakarta – Adanya temuan BPOM Atau Badan Pengawas Obat dan Makanan terkait produk ikan makarel dalam kaleng yang mengandung cacing pita tengah ramai diperbincangkan. Namun, temuan ini diharapkan tidak membuat masyarakat takut untuk mengonsumsi produk olahan ikan dalam kaleng.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Siang Produk Kelautan dan Perikanan (KKP), Nilanto Perbowo, mengatakan, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan saat akan mengonsumsi produk tersebut.

Pertama, masyarakat harus mengecek apakah produk ikan kaleng tersebut memiliki izin edar dari BPOM.

 

Kedua, kata dia, masyarakat harus teliti melihat bentuk kemasan kaleng tersebut. Jika ada bagian kaleng yang tidak utuh atau mengalami penyok, lebih baik jangan diambil.

 

“Bentuk kalengnya masih utuh tidak. Kalau kalengnya tidak utuh, sebaiknya jangan diambil. Kalau ada penyok jangan diambil atau pilih kaleng yang masih utuh,” kata dia.

 

Ketiga, masyarakat harus memperhatikan secara benar tanggal kedaluwarsa dari produk kaleng tersebut. Hal ini sangat penting mengingat makanan yang sudah kedaluwarsa sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

 

“Yang paling penting adalah masa kedaluwarsa.  Untuk ikan makarel, masyarakat saat ingin mengonsumsi dia harus melihat dulu, setelah dibuka sebelum di makan,” ungkap dia.

 

Nilanto meyakini jika saat ini masyarakat telah semakin cerdas dalam memilih produk makanan ikan yang berkualitas. Namun, ia berharap masyarakat lebih teliti dan banyak bertanya jika tidak mengetahui kode atau kandungan yang ada di dalam produk makanan kaleng tersebut.

Terkait :   Sikap Jokowi Dinilai Buruk Bagi Pemerintahannya? Apa Penyebabnya

 

“Saya yakin masyarakat semakin paham untuk bisa memilih dan mengetahui cara memilih produk yang baik. Jadi kalau tidak ada registrasinya, tidak ada izin edar dari BPOM, ya jangan dibeli. Itu artinya produk selundupan, yang tanpa melalui prosedur langsung disebar ke pasar,” tandas dia.

Dugaan YLKI Ikan Makarel Kaleng Bisa Mengandung Cacing

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 27 jenis merek ikan makarel kaleng mengandung cacing. Dari 27 merek ikan makarel tersebut, 16 di antaranya bermerek impor dan sisanya merek dalam negeri. BPOM sudah melarang produsen merek-merek tersebut mengimpor atau memproduksi untuk sementara.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi menduga, timbulnya cacing dalam makanan olahan tersebut disebabkan oleh proses produksi yang tidak higienis dan tidak sehat. Untuk itu, dia meminta BPOM menyelidiki lebih lanjut hasil temuan tersebut.

“Badan POM harus menemukan penyebabnya kenapa produk makarel tersebut sampai terkontaminasi cacing. YLKI menduga proses produksi dari 27 merek makarel itu tidak sehat, tidak higienis,” ujar Tulus melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (30/3/2018).

“Badan POM jangan hanya melakukan penarikan saja, tetapi harus menginvestigasi secara keseluruhan proses produksinya, baik dari sisi hulu hingga hilir,” kata dia.

Maraknya produk makarel mengandung cacing, sangat mengkhawatirkan bagi konsumen. Hal ini dapat menimbulkan anggapan bahwa produk sarden atau makarel adalah produk pangan yang tidak aman.

“YLKI minta Badan POM melakukan pengawasan ketat di pasaran usai penarikan. Jangan sampai penarikan itu hanya simbolis dan di pasaran masih marak beredar,” kata Tulus.

Sumber : kababerita

0%
like
0%
love
0%
haha
0%
wow
0%
sad
0%
angry
Portal Direktori UKM Indonesia

#Follow News : Riau | Berita Riau | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Portal Berita RiauPortal Berita Pekanbaru

#Jasa Web : Riau | Jasa Web Riau | Jasa Web Pekanbaru | Jasa SEO Riau | Jasa SEO PekanbaruJasa SEO Web Kampar | Jasa SEO Web Siak | Walikota Pekanbaru | Jasa SEO Web InhuJasa SEO Web Inhil | Jasa SEO Web Bengkalis | Jasa SEO Web Rohil | Jasa SEO Web Meranti | Jasa SEO Web Dumai | Jasa SEO Web Kuansing | Jasa SEO Web Pelalawan| Jasa SEO Web Rohul | Portal Berita Riau

Loading...

SILAHKAN KOMENTAR

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.