Koranriau.com, Ratusan pelajar Sekolah Dasar Kristen Petra Alak, Kota Kupang harus memanjat tembok untuk sampai ke sekolah mereka. Pemandangan ini juga terlihat disaat jam pulang sekolah.

Walau beresiko fatal jika jatuh, namun murid-murid ini terpaksa lakukan karena tidak ada akses lain.

Pantauan merdeka.com di lokasi, Jumat (6/3) pagi, ratusan murid itu berebutan memanjat tembok untuk tidak terlambat sampai di sekolah. Jika terlambat, mereka diganjar hukuman memilih sampah oleh para guru.

Yuliana Jelita Bahan, salah satu murid Sekolah Dasar Kristen Petra Alak mengaku berangkat ke sekolah tepat pukul 06.00 Wita, namun selalu telat dan mendapatkan hukuman dari guru, karena harus berjuang melewati tembok tersebut.

“Saya biasa ke sekolah itu berangkat dari rumah jam 6.00 Wita. Dulu sebelum ada tembok, saya tidak pernah terlambat tapi sekarang sering terlambat dan dihukum pilih sampah,” katanya polos.

Terkait :   Wow! Sandra Olga Tampil Menggoda dengan Jersey Persib

Menurut Yuliana, sebelum tembok itu dibangun, dirinya hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di sekolah. Namun sekarang Yuliana bersama teman-temannya sering terlambat ke sekolah.

“Kami ikut jalur itu dari dulu, karena jarak rumah dengan sekolah tidak jauh. Ada jalur lain tapi harus putar lagi sekitar empat sampai lima kilometer, untuk bisa sampai di Sekolah,” ujarnya.

Dia berharap, tembok tersebut segera dibongkar oleh pemiliknya agar jalur tersebut bisa digunakan kembali oleh semua orang.

Kepala Sekolah Frengki Kase saat ditemui menjelaskan, pihaknya baru mengetahui alasan murid sering terlambat, ketika mengecek ke lokasi.

“Murid-murid saya sering terlambat saat datang ke sekolah dengan memakan waktu 20 sampai 25 menit. Dampaknya sangat banyak, saat memanjat bisa saja mereka jatuh dan luka. Ini yang perlu kita harus antisipasi dengan berupaya meditasi, dengan pihak kelurahan maupun pemilik lahan tersebut,” jelasnya.

Terkait :   Karena Belum Bayar Administrasi,Ijazah Siswa di SMK Pekanbaru Ditahan

Menurut Frengki, sudah dilakukan mediasi namun tidak menghasilkan solusi apapun. Bahkan penjaga lahan yang diduga milik salah satu pengusaha itu, melarang murid-murid tersebut untuk memanjat tembok itu lagi ketika ke sekolah, maupun pulang ke rumah.

“Sudah satu bulan kami menunggu tapi belum ada solusi sama sekali, baik itu dari pihak kelurahan dan juga pemilik lahan tersebut. Kami berharap kebijakan dari pihak pemerintah dan juga pemilik lahan untuk persoalan ini, agar murid – murid Sekolah Dasar dan juga Taman Kanak-kanak Kristen Petra, dapat melewati jalan tersebut untuk mengikuti proses belajar dengan baik dan maksimal,” harapnya.

Sumber:merdeka.com