Koranriau.com, Sejak ditemukannya kasus virus Corona di Indonesia sejumlah kelangkaan masker dan hand sanitizer menjadi sorotan publik.

Polisi bergerak membongkar dan menangkap para spekulan masker yang mencari keuntungan di tengah kepanikan warga.

Ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Ulama (IKANU) Mesir, KH Faiz Syukron Makmun menyarankan pemerintah meniru Singapura dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terkait masker dan hand sanitizer. Pemerintah Singapura, menurutnya, membagikan masker secara gratis untuk warga sebagai upaya pencegahan dari infeksi virus corona.

“Langkah ini sangat membantu dalam menekan kepanikan publik yang justru bisa kontraproduktif,” kata Faiz dalam keterangannya, Jumat (6/3).

Selain kelangkaan masker, kata Faiz, juga muncul fenomena panic buying kebutuhan pokok di masyarakat. Dia menilai pemerintah memegang peran sentral dan vital dalam menghadapi dampak dari masuknya virus corona ke Indonesia.

Terkait :   Kabar Gembira, Kini 24 Atlet Riau Akan Dipanggil Masuk Pelatnas Asian Games 2018

“Munculnya panic buying salah satu indikator kuat ketidaksiapan pemerintah menciptakan ketenangan dan menekan rasa panik publik di masyarakat,” ujarnya.

Faiz menambahkan, langkah tegas pemerintah Arab Saudi menutup kunjungan warga negara asing juga bisa dijadikan pertimbangan bagi pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona.

“Dalam kaidah Islam sebaiknya mengedepankan maslahat keselamatan jiwa ketimbang meraup devisa,” tutur dia.

Kasus virus corona di Indonesia menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam Rakernas IKANU di Cirebon, Jawa Barat pada 7-8 Maret 2020. Persoalan kedua yang dibahas adalah terkait dengan pemerataan ekonomi.

Dia menilai masih ada ketimpangan ekonomi. Jika Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan per September 2019 sebesar 9,22 persen atau menyisakan 24,7 juta jiwa lagi, namun faktanya masih terjadi ketimpangan di masyarakat.

Terkait :   "Kita Harus Meningkatkan (alutsista)"kata Prabowo Tentang Rapat Soal Natuna

Persoalan ketiga yang jadi sorotan dalam Rakernas bertemakan “Nahdliyin dan Tantangan Ekonomi 4.0” ini, adalah penguatan Islam moderat sebagai identitas Islam Indonesia. Moderasi beragama tersebut sejatinya dapat diaplikasikan dalam berbagai lini kehidupan. Konsepsi moderasi Islam ini bisa mendasari sikap dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Sumber:merdeka.com