Koranriau.com, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (Kabid Binpres PP PBSI) Susy Susanti mengungkap kendala yang dihadapinya saat pembuatan visa atlet.

Para pebulu tangkis Indonesia setiap tahun mengikuti banyak turnamen di luar negeri.

Meski mengikuti turnamen menjadi agenda rutin, bukan berarti PBSI mendapat kemudahan dalam mengurus visa.

“Terkait visa aneh-aneh lagi. Ada yang tidak mendapat izin, padahal PBSI mendapat surat undangan dari penyelenggara. Kedutaan terkadang tidak mempermudah mengurus visa saja, padahal kami kan bertugas,” kata Susy ditemui BolaSport.com di pelatnas, Cipayung, Jakarta.

“Meski tugas negara, masih dipersulit. Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun. Tahun lalu, Ketut (Ni Ketut Mahadewi Istarani) satu jam sebelum berangkat baru keluar visa UK. Padahal, kami menggunakan visa super atau prioritas,” tutur Susy.

Terkait :   Untuk Meningkatkan Mutu Wasit Bulutangkis, Ini yang Dilakukan PBSI Riau

“Kami dengar, bukan kesalahan dari kami. Visa biasa sudah dapat, tetapi visa prioritas malah terlambat terbit.”

Setelah kejadian tersebut, Susy mengatakan bahwa pihaknya sampai harus mengontak langsung perwakilan duta besar London.

“Jadi, sebetulnya kami banyak pusing mengurus hal seperti itu pada last minute,” ucap Susy.

“Contohnya, setelah kami pulang dari Manila. Hanya berapa hari kerja, kami sudah kirim surat undangan. Tetapi, tetap juga susah mendapat visa, sedangkan ke Indonesia gampang banget visanya,” ucap Susy.

Kesulitan ditemukan saat mengurus ke kedutaan Inggris dan Jerman yang berujung pada penolakan visa untuk dikeluarkan.

“Kami berharap mengurus visa dibantu, seperti Kemenlu (Kementrian Luar Negeri), dubes Indonesia di (Jerman, Australia, Amerika, UK) untuk pembuatan visa schengen,” ujar Susy.

Terkait :   Persija Sulit Dihentikan di Liga 1? Kenapa?

“Kami sampai pernah lewat jalur menko polkam (Wiranto saat menjabat sebagai menteri) sewaktu hendak ke Iran. Saat itu, kami sudah bayar hotel, tetapi atlet village berada jauh dari mana-mana.”

“Di lapangan banyak kendala. Tetapi, ini kebutuhan poin atlet dan tugas negara untuk mengikuti turnamen,” ucap Susy.

Sumber: bolasport