Koranriau.com – Pasca aksi mogok kerja yang dilakukan oleh 35 orang dokter spesialis RSUD Kota Dumai selama dua hari lalu yakni Senin, 27 Januari 2020 dan Selasa, 27 Januari 2020 lalu, aktivitas rumah sakit plat merah ini mulai kembali normal.

Sebagaimana dikatakan Direktur RSUD Kota Dumai, drg Ridhonaldi kepada wartawan usai dilakukan mediasi dengan para dokter, jika aksi mereka dipicu karena masalah miss komunikasi antara dokter dan pihak manajemen.

Menurut dia, keluhan para dokter ini sebenarnya bisa disampaikan langsung kepadanya, namun dikarenakan pekerjaan dan kegiatan dinasnya di luar kota mengharuskan ia tidak berada di tempat.

Sehingga aksi para dokter tersebut tak perlu sampai mengabaikan pelayanan terhadap para pasien.

“Padahal ini juga saya lakukan semata-mata untuk melakukan terobosan dan inovatif demi kebaikan RSUD. Namun kita punya kepala bagian yang membantu saya, hanya saja pihak dokter tidak bersedia,”ucap dia.

Terkait :   Polda Riau Janjikan Reward Berupa PIN Emas bagi Jajaran yang Berhasil Tekan Karhutla

Berkaca pada kejadian ini, dirinya juga berjanji akan membahas permasalahan ini bersama dengan para dokter.

“Bahkan kali ini lebih intens kita melakukan komunikasinya termasuk permasalahan komite yang digadang-gadangkan oleh dokter,”ucap Ridho kepada wartawan, Selasa, 28 Januari 2020 lalu.

Sementara di lain kesempatan, ketika riaulink.com ingin mencari tahu pasti kronologi permasalahan ini kepada salah seorang dokter yang ikut aksi mogok lalu namun enggan disebutkan identitasnya, jika penuturan drg Ridho tidaklah sepenuhnya salah.

Dirinya membenarkan buntut dari permasalahan itu adalah karena jarangnya sang Direktur di ruangannya.

Menurut dia Direktur tidaklah peka terhadap kemajuan pelayanan RS kepada masyarakat.

“Hanya sibuk dengan kegiatan-kegiatan seremonial untuk dirinya sendiri,”ungkap dia Rabu (29/1/2020) melalui pesan singkat di aplikasi WhatsAppnya.

Terkait :   Ciptakan SDM Pintar dan Mumpuni, Sekda Rohul Ajak Orang Tua Galakkan Gernas BAKU 

Tak itu saja, selaku dokter ia merasa kasihan kepada pasien yang melakukan perobatan. Pasalnya obat dan bahan yang digunakan tenaga medis sering habis namun pihak RS tidak menyediakan bahan logistik yang semestinya dibutuhkan.

“Ketika hal ini kita sampaikan kepada pihak manajemen, namun tidak ditanggapi sehingga kita selaku dokter sering disalahkan masyarakat,”paparnya panjang lebar.

“Akibatnya tidak terciptanya hubungan yang harmonis di antara dokter dan manajemen,”ungkap dia.

Jadi dirinya membantah sebagaimana yang tengah viral di media sosial mengenai aksi mogok yang mereka lakukan dikarenakan belum tuntasnya pembayaran honor dokter.

“Itu tidak benar, yang benarnya karena tidak ada komunikasi yang baik antara kita selaku dokter dan pihak manajemen terutama dengan Direktur,”tukasnya.

Sumber : riaulink.com