Koranriau.com – PEKANBARU – Eka Safitri tidak menyangka masalah utang sebesar Rp3,1 juta, membuat dirinya mengalami kekerasan fisik. Hal itu diduga dilakukan oleh seorang wanita berinisial Des alias Des, yang tak lain adalah orang yang meminjami uang kepada Eka.

Akibatnya, Eka melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Tapung pada 22 Januari 2020 kemarin.

“Korban telah meminta bantuan kepada kami, LBH ETL (Lembaga Bantuan Hukum Equality the Law,red) untuk mendampinginya membuat laporan ke Polsek Tapung,” ujar Devi Permata Sari dari LBH ETL , Selasa (28/1) malam.

Diterangkan Devi, kejadian yang menimpa Eka Safitri itu bermula dari persoalan utang sebesar Rp3,1 juta kepada pelaku. Saat jatuh tempo pembayaran angsuran, korban mendapat telepon dari kampung.

Terkait :   Taekwondo Riau Kirim 10 Atletnya di PON 2020,Harapkan 3 Mendali Emas

“Saat itu, korban mendapat kabar kalau anaknya masuk rumah sakit, dia harus pulang kampung saat itu juga,” beber Devi yang didampingi anggota tim Penasehat Hukum dari LBH ETL, seperti Andre Wibowo, Rahma Zelita, dan Raja Inal Dalimunthe.

Karena utang belum di lunasi, kata Devi, pelaku mencurigai korban melarikan diri. Pelaku kemudian membawa dengan paksa kulkas dan mesin cuci milik korban tanpa izin. Sepulang dari kampung, korban langsung didatangi pelaku.

“Pelaku melakukan penganiayaan dengan alasan sakit hati karena utang belum dilunasi. Peristiwa itu terjadi di sebuah rumah di Jalan Garuda Sakti Km 6 Perumahan Surya Langgeng Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kampar,” kata Devi lagi.

Tidak hanya penganiayaan, pelaku juga mencaci maki dan mengancam akan membunuh, serta membakar rumah korban. Ancaman itu disampaikan jika tidak melunasi utangnya, sementara barang-barang korban telah diambil paksa oleh pelaku.

Terkait :   Brigadir Arifin Ahmad Besuk dan Bantu Bayi Penderita Penyakit Kulit

“Akibat perlakuan pelaku, korban menderita sakit pada kepalanya. Korban tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan. Kaki korban terkilir dan tangan korban lebam dan membuat korban trauma, sehingga tidak tenang karena ancaman dibunuh dan rumah akan dibakar pada malam hari,” imbuh Devi.

Dengan telah dilaporkannya perkara itu ke pihak kepolisian, dia berharap agar pelaku diproses sesuai aturan hukum yang berlaku.

“Adapun dugaaan pidana yang kita laporkan terkait dugaan penganiayaan sebagaimana Surat Tanda Terima Laporan Polisi Nomor : STTPL/16/l/2020/Riau/Res.Kpr/Sek Tapung, tanggal 22 Januari 2020,” pungkas Devi Permata Sari.

Sumber : haluanriau.co